
vivaborneo.id/ — Pagi ini, Jalan Maduningrat di Kelurahan Melayu tak sekadar menjadi urat nadi transportasi, melainkan saksi bisu betapa indahnya keberagaman di Kutai Kartanegara (Kukar).
Di bawah langit Desember yang teduh, jemaat Gereja GPIB Efata melangkah dengan khidmat, disambut senyum ramah petugas kepolisian dan rekayasa lalu lintas yang tertata humanis.
Suasana Natal 2025 di “Kota Raja” ini terasa begitu hangat. Bukan hanya karena hiasan cemara dan lampu warna-warni, tetapi karena adanya rasa aman yang ditenun melalui sinergi kuat antara aparat keamanan dan tokoh agama.
Kini, saat lonceng gereja berdentang dan nyanyian syukur terdengar hingga ke tepian Sungai Mahakam, Kukar kembali menunjukkan wajah aslinya. Sebuah rumah besar yang ramah bagi perbedaan.
Di tengah keramaian wisatawan yang memadati Pulau Kumala, perayaan Natal tetap berjalan sebagai sebuah simfoni damai. Ini bukti bahwa di tanah Kutai, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan napas hidup yang terus dijaga bersama.
Kapolres Kutai Kartanegara, AKBP Khairul Basyar, menyadari betul bahwa keamanan adalah buah dari komunikasi yang sehat. Sebelum puncak perayaan tiba, ia telah menjalin keakraban dengan Pengurus Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Kukar.
Bagi Khairul, menjaga kamtibmas bukan sekadar patroli bersenjata, melainkan membangun “benteng” melalui silaturahmi. “Kerja sama dan komunikasi yang baik antara Polri dan tokoh agama menjadi kunci utama terciptanya rasa aman dan toleransi di tengah masyarakat,” ujarnya saat mengunjungi GPIB Efata, Selasa (23/12).
Di lapangan, komitmen tersebut mewujud nyata. Personel gabungan dari Polres Kukar, Kodim 0906/KK, hingga Satpol PP tersebar di gereja-gereja besar mulai dari pusat kota hingga pelosok Loa Janan dan pesisir Muara Jawa.
Kehadiran Polri, baik yang terlihat dalam seragam lengkap maupun yang membaur secara tertutup, memberikan ruang bagi umat Kristiani untuk beribadah tanpa rasa cemas.
Tak hanya mengawal fisik jembatan atau jalanan, pihak kepolisian juga secara aktif menggandeng komunitas untuk waspada terhadap isu radikalisme di media sosial, memastikan kedamaian Natal tak terusik oleh provokasi digital.(*/Sumber berita dari humas.polri.go.id)
![]()









