Beranda Budaya Pemerintah Dorong Pengakuan Aksara Nusantara ke UNESCO

Pemerintah Dorong Pengakuan Aksara Nusantara ke UNESCO

13
0
Memperkuat Fondasi Aksara Nusantara: Ahli bahasa dan pegiat aksara berkolaborasi dalam DKT Badan Bahasa di Jakarta. Kegiatan ini menjadi kunci dalam menguatkan strategi pelindungan aksara Nusantara, termasuk digitalisasi ke Unicode, sebagai modal diplomasi budaya global Indonesia.

vivaborneo.id/ – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Kebudayaan, mengambil langkah strategis terpadu untuk mendorong pengakuan aksara daerah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO.

Upaya ini tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga menguatkan fondasi teknologi dan diplomasi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) memainkan peran kunci dalam penguatan fondasi ilmiah, kebijakan, dan terutama, digitalisasi aksara Nusantara ke dalam sistem global Unicode.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin dalam siaran pers Kemendikdasmen, Kamis (6/11/2025) menegaskan bahwa ini merupakan komitmen Badan Bahasa dalam upaya pelestarian bahasa, sastra, dan aksara daerah.

“Ini merupakan komitmen kami di Badan Bahasa dalam upaya pelestarian bahasa, sastra dan aksara daerah. Salah satu upaya selama ini adalah pengenalan sastra dan aksara daerah melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di satuan pendidikan dasar dan menengah,” ungkap Hafidz.

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, menyebut bahwa pengusulan aksara daerah ke dalam daftar WBTB UNESCO merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Bahasa dalam program pelindungan bahasa dan sastra daerah.

Strategi terbarunya adalah melalui proyek besar Peta Kebinekaan, yang terdiri atas tiga peta utama: Peta Bahasa, Peta Sastra, dan Peta Aksara yang akan di-digitalisasi.

Dora berharap melalui integrasi ke dalam Unicode, aksara Nusantara tidak hanya lestari di ruang budaya, namun juga hidup dan digunakan di ruang digital global. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kemendikdasmen untuk memperkuat diplomasi budaya, literasi digital, dan identitas kebangsaan.

Saat ini, baru sembilan aksara Nusantara yang telah masuk ke Unicode, termasuk Pegon dan Kawi. Heru Nugroho, Direktur Eksekutif Yayasan Budaya Nusantara Digital, berharap lebih banyak aksara daerah bisa hidup di ruang digital agar tidak punah.

Sebagai bagian dari diplomasi, Indonesia juga sedang menyusun strategi pengusulan praktik menulis aksara tradisional Nusantara ke UNESCO secara multinasional bersama Suriname, dengan potensi bergabungnya Malaysia dan Filipina.(sen)

Loading

Artikel sebelumyaDisdikbud Samarinda Gelar Diskusi untuk Legalisasi Legenda Lokal
Artikel berikutnyaKunjungan Wisman Capai 11,43 Juta, Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi 5,04%