Beranda Informasi Musim Hujan Kaltim Diprediksi Panjang Hingga Juni 2026, Waspada Potensi La Niña

Musim Hujan Kaltim Diprediksi Panjang Hingga Juni 2026, Waspada Potensi La Niña

9
0
Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Meteorologi,_Klimatologi,_dan_Geofisika

vivaborneo.id/, Samarinda – Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa durasi musim hujan kali ini akan berlangsung panjang, yakni hingga pertengahan Juni 2026.

Selain itu, BMKG juga mewaspadai kecenderungan anomali suhu laut menuju La Niña, yang berpotensi menambah intensitas curah hujan sepanjang musim penghujan tahun ini.

Peringatan ini disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Selasa (2/12/2025), dihadiri oleh pemerintah daerah, BPBD, TNI/Polri, dan akademisi.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan bahwa tren curah hujan di Kaltim secara umum memang diprediksi meningkat memasuki Desember. Namun, fenomena La Niña masih perlu diwaspadai.

“La Niña dapat meningkatkan suplai uap air di wilayah Indonesia, termasuk Kaltim. Ini berpotensi menambah intensitas hujan pada musim penghujan tahun ini,” ujarnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menerangkan bahwa wilayah Kaltim saat ini memang berada dalam periode musim hujan. Kaltim, yang berada di daerah ekuatorial, secara alami memiliki durasi musim hujan yang lebih panjang dibandingkan musim kemarau.

“Di Kaltim, musim kemarau rata-rata hanya berlangsung sekitar tiga bulan. Musim hujan tahun ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan Juni 2026. Artinya, sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, wilayah Kaltim masih berada dalam periode musim hujan,” tegas Riza.

Durasi yang panjang, sekitar enam hingga tujuh bulan ini, berdampak pada meningkatnya berbagai potensi bencana hidrometeorologi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mengakses informasi cuaca melalui kanal-kanal resmi dan memahami kondisi lingkungannya, termasuk apakah wilayah tempat tinggalnya merupakan area rawan bencana atau tidak. BMKG juga terus melakukan pembaruan informasi, mulai dari prakiraan musiman hingga peringatan dini cuaca ekstrem yang bisa disampaikan 1–3 jam sebelum kejadian. (Prb/ty)

Loading

Artikel sebelumyaWonderful Indonesia Wellness 2025 Dorong Ekonomi Lokal
Artikel berikutnyaPerkuat Pertahanan Siber Pemda, ASKOMPSI Gandeng Perusahaan Korea LSWare