Beranda Ekonomi Kreatif Masa Depan Ekonomi Kreatif di Jantung Kebijakan Nasional

Masa Depan Ekonomi Kreatif di Jantung Kebijakan Nasional

14
0
Ilustrasi: Gemini AI

vivaborneo.id/ – Masa depan ekonomi kreatif Indonesia kini tak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap di pinggiran kebijakan, melainkan telah ditetapkan sebagai mesin utama pertumbuhan nasional. Di atas ketinggian Autograph Tower, Jakarta, sebuah visi besar tentang wajah Indonesia dua dekade mendatang memang tengah dirajut.

Penegasan ini menjadi inti dari pertemuan strategis antara Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, pada Rabu (17/12/2025).

Dalam diskusi yang berlangsung hangat namun sarat misi tersebut, Teuku Riefky Harsya membawa satu pesan kuat: ekonomi kreatif adalah “The New Engine of Growth”.

Dengan kontribusi nyata dari subsektor kuliner, fesyen, kriya, hingga gim dan aplikasi, sektor ini telah membuktikan ketangguhannya dalam menyerap tenaga kerja dan mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Cetak Biru 2045: Menuju Indonesia Emas

Langkah konkret menuju masa depan yang cerah itu kini tinggal hitungan hari. Menteri Ekraf mendorong percepatan penandatanganan Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045, yang dijadwalkan rampung pada 22 Desember mendatang.

Ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan cetak biru jangka panjang yang akan mengintegrasikan ekonomi kreatif ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) melalui program prioritas “ASTA CITA” Presiden Prabowo.

“Ekonomi kreatif bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia ke depannya,” tegas Riefky. Ia menekankan bahwa keberpihakan kebijakan di tingkat pusat harus memberikan dampak berantai yang nyata hingga ke pelosok daerah.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, melaksanakan pertemuan strategis dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari di Kantor Kementerian EKraf, Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Potensi Nyata di Balik Layar

Gayung pun bersambut. Kepala KSP, Muhammad Qodari, melihat optimisme tersebut sebagai sebuah keniscayaan. Ia memberikan contoh fenomenal dari industri layar lebar—film Agak Lain—yang sukses menyedot jutaan penonton dan menghasilkan pendapatan ratusan miliar rupiah.

Baginya, satu judul film saja sudah mampu menggambarkan betapa masifnya perputaran ekonomi dan lapangan kerja yang tercipta.

“Kita ini masyarakatnya sudah ada di satu titik di mana ekonomi kreatif itu menjadi sesuatu yang laku dibeli. Potensinya luar biasa,” ujar Qodari dengan penuh antusiasme.

Sinergi Tanpa Koridor

Pertemuan ini menjadi sinyal kuat adanya kolaborasi lintas lembaga yang solid. KSP menyatakan kesiapannya untuk “berjalan bersama” Kementerian Ekraf, mulai dari pengawalan regulasi, penguatan kelembagaan di daerah, hingga perjuangan revisi Undang-Undang Pemerintahan Daerah.

Dengan harmonisasi kebijakan yang kian matang, ekonomi kreatif kini bersiap mengambil alih panggung utama.

Masa depan ekonomi Indonesia bukan lagi soal komoditas mentah semata, melainkan tentang ide, imajinasi, dan karya yang mampu bersaing di kancah global.(Sumber berita dan foto dari ekraf.go.id)

Loading

Artikel sebelumyaKemenpar dan Pemerintah Swiss Rampungkan Dua Program Strategis
Artikel berikutnyaMenenun Masa Depan Vokasi: Di Balik Konsolidasi Emas Poltekpar Menuju 2030