Upaya menanamkan kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan sekolah kini bergeser fokus. Budaya sadar bencana tidak lagi dipandang sekadar agenda simulasi tahunan, melainkan upaya sistematis untuk menciptakan ekosistem sekolah yang tangguh dan berkelanjutan.
Inti dari upaya ini adalah penanaman pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan agar seluruh warga sekolah mampu bertindak tepat sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Dalam konteks ini, peran pendidik menjadi sangat krusial.
Diposting pada akun Instagram ditjen.gtk.kemdikbud, Jumat (3/10) Temu Ismail, Sekretaris Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, menegaskan bahwa guru adalah agen perubahan utama. “Guru dan tenaga kependidikan memiliki peran sentral dalam membangun budaya sadar bencana di satuan pendidikan,” ujar Temu Ismail.
Ia menekankan bahwa terwujudnya sekolah yang siap siaga bergantung pada kualitas pengajaran. Melalui inovasi pembelajaran kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, para pendidik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan faktual tentang gempa atau banjir. Lebih penting lagi, guru harus mampu menanamkan sikap, keterampilan, dan kepedulian yang mendalam kepada peserta didik.
Tujuannya jelas, agar para siswa tidak hanya tahu bahaya, tetapi juga memiliki bekal aksi nyata dan kesadaran kolektif untuk menghadapi berbagai ancaman bencana di masa depan.(*/Ig ditjen.gtk.kemdikbud)
![]()










