Beranda Sekolah-Kampus East Borneo Islamic Festival 2025: Refleksi Suci di Ujung Tahun

East Borneo Islamic Festival 2025: Refleksi Suci di Ujung Tahun

15
0
Dok. Istimewa

vivaborneo.id/, Samarinda — Di bawah naungan kubah megah Masjid Baitul Muttaqien, suasana malam di Islamic Center Kalimantan Timur berubah menjadi samudera ketenangan. Cahaya lampu yang memantul di lantai marmer seakan menyatu dengan lantunan doa yang membumbung ke langit.

Minggu malam (28/12), East Borneo Islamic Festival 2025 resmi dibuka, menandai dimulainya sebuah perjalanan spiritual bagi masyarakat Kalimantan Timur untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk duniawi dan membasuh jiwa menjelang pergantian tahun.

Bagi Kalimantan Timur, festival ini bukan sekadar perayaan rutin. Di tengah deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan dinamika zaman yang kian kompleks, festival ini hadir sebagai pengingat akan pentingnya “akar”.

Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan bahwa memperkuat fondasi spiritual adalah keharusan untuk menyongsong tahun 2026.

“Masjid ini adalah pusat peradaban, tempat bertemunya ilmu dan spiritualitas. Di sinilah kita mengaktualisasikan Islam yang rahmatan lil alamin dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya di hadapan ribuan jemaah yang hadir dengan khidmat.

Puncak keheningan spiritual ini akan bermuara pada malam 31 Desember nanti. Saat dunia luar mungkin sibuk dengan kembang api, di Islamic Center, getaran shalawat akan dipimpin oleh tokoh-tokoh besar seperti Habib Ali Zainal Abidin Assegaf dan Majelis Az Zahir.

Kehadiran para ulama dan musisi religi seperti Opick diharapkan mampu membawa setiap pribadi pada ruang refleksi diri yang dalam. Sebuah momentum untuk menata niat dan memohon keberkahan agar Bumi Etam senantiasa menjadi rumah yang aman, damai, dan penuh keberkahan.

Di tengah suasana syahdu tersebut, terselip pula doa tulus yang dipanjatkan untuk saudara-saudara di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang tengah dirundung bencana.

Festival ini membuktikan bahwa spiritualitas sejati selalu berkelindan dengan empati.

Melalui pemukulan himar yang menggema, Kalimantan Timur tidak hanya membuka sebuah festival, tetapi membuka pintu hati untuk memulai lembaran baru tahun 2026 dengan jiwa yang lebih bersih dan semangat yang lebih suci.(KRV/pt/*)

Loading

Artikel sebelumyaEksplorasi Banten, Itinerary 2 Hari 1 Malam yang Aman dan Berkesan
Artikel berikutnyaKoordinasi demi Kemanusiaan di Labuan Bajo