
vivaborneo.id/, Padang — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan pendekatan baru dalam memperkuat sistem pertahanan daerah melalui hasil riset mitigasi bencana berbasis kajian penamaan rupa bumi atau toponimi.
Dalam audiensi strategis bersama Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, tim periset BRIN memaparkan bahwa pemahaman mendalam terhadap sejarah nama-nama wilayah dapat menjadi instrumen krusial dalam membaca potensi risiko serta memperkuat kesiapsiagaan masyarakat berlandaskan kearifan lokal.
Mengingat Sumatera Barat berada di zona rawan bencana, riset ini diposisikan sebagai fondasi ilmiah untuk membangun sistem peringatan dini yang lebih kontekstual dan efektif.
Gubernur Mahyeldi menyambut hangat gagasan tersebut dan menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah merancang program kolaboratif untuk memastikan setiap kebijakan publik didasarkan pada analisis data yang akurat.
Secara khusus, Gubernur meminta dukungan langsung dari tim ahli BRIN untuk memberikan solusi teknis cepat dalam menangani dampak bencana alam yang baru-baru ini melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat.
“Sinergi ini penting agar setiap langkah yang kita ambil, baik pemulihan maupun mitigasi jangka panjang, memiliki dasar metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Mahyeldi di Istana Gubernur, Selasa (23/12/2025).
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ekosistem riset di daerah, Pemprov Sumbar juga berkomitmen menyediakan fasilitas ruang kerja bagi para periset BRIN yang berdomisili di Sumatera Barat.
Kolaborasi lintas disiplin ini—mulai dari riset teknologi lingkungan hingga arkeologi—diharapkan tidak hanya menghasilkan solusi kebencanaan, tetapi juga menjadi motor inovasi dalam perencanaan pembangunan daerah yang berkelanjutan di masa depan.
(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)
![]()









