Beranda Ekonomi Kreatif Menjaga Identitas Bangsa Lewat Aniwayang

Menjaga Identitas Bangsa Lewat Aniwayang

17
0
Inilah Aniwayang yang merupakan teknik pembuatan film animasi dengan mengadaptasi estetika, teknik gerak, dan penceritaan dari seni pertunjukan Wayang Kulit tradisional.

vivaborneo.id/ – Di tengah gempuran estetika anime Jepang dan gaya visual barat, Indonesia tengah merajut kembali sebuah identitas bangsa yang unik melalui medium yang tak terduga: animasi wayang.

Aniwayang, sebuah terobosan yang mengawinkan keluhuran tradisi wayang dengan teknologi modern, kini bersiap melompat dari layar lokal menuju panggung global.

Melalui karakter Cila, Cili, dan Cilo dari “Desa Timun”, identitas kreatif anak bangsa ini membuktikan bahwa budaya bukanlah barang museum yang kaku, melainkan entitas hidup yang mampu beradaptasi dengan zaman.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menangkap sinyal positif ini saat menerima audiensi Intermedia Prima Vision (IPV) di Autograph Tower, Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Baginya, Intellectual Property (IP) lokal seperti Aniwayang by Desa Timun bukan sekadar konten hiburan, melainkan solusi kreatif yang memiliki potensi scale up luar biasa.

Tradisi yang “Sulit Direplikasi”

Mengapa Aniwayang begitu istimewa? Jawabannya terletak pada keasliannya. Direktur IPV, Anastassia Florine Limasnax, menegaskan bahwa Aniwayang adalah sesuatu yang berbeda (something different). Karena berakar pada budaya adiluhung Indonesia, konsep ini memiliki benteng pertahanan kreatif yang sulit ditiru oleh negara lain.

“Kami cukup percaya diri untuk membesarkan IP Indonesia bukan hanya besar di negara sendiri, tetapi juga untuk go international,” ujar Florine. Misi IPV jelas: menghubungkan kekuatan cerita dengan nilai komersial, sehingga warisan budaya bisa menjadi aset ekonomi yang berkelanjutan.

Dari Osaka Expo hingga E-Katalog

Capaian Aniwayang dalam setahun terakhir bukanlah sekadar angka di atas kertas. IP ini telah melanglang buana hingga ke World Osaka Expo, melakukan edukasi di Goethe Institute dan IFI Bandung, hingga menembus sistem birokrasi melalui pendaftaran ‘Wayang in a Box’ versi Ekraf ke dalam e-katalog pemerintah.

Kehadiran karakter Desa Timun dalam stiker kemeriahan Karnaval Kemerdekaan ke-80 RI beberapa waktu lalu juga menjadi bukti nyata bagaimana IP ini telah menyatu dengan memori kolektif masyarakat sebagai identitas kreatif lintas generasi.

2026: Let’s March Together

Founder dan Creative Director Aniwayang Studio, Daud Nugraha, menatap tahun depan dengan optimisme tinggi. Mengusung konsep STRONGER: Let’s March Together, ia bertekad membawa Desa Timun lebih jauh lagi.

“Tahun 2025, kami sudah membuktikan kalau Desa Timun berhasil mengemas ulang tradisi. Ia edukatif, namun tetap menyenangkan bagi anak-anak,” jelas Daud.

Dengan dukungan strategis dari Kementerian Ekraf, rencana jangka panjang Aniwayang akan mencakup strategi lisensi, distribusi, dan produksi yang lebih masif untuk memastikan budaya Indonesia tetap eksis di pasar internasional.

Masa depan ekonomi kreatif Indonesia kini memiliki wajah yang akrab: wajah wayang yang digerakkan oleh jemari digital anak muda bangsa. Sebuah pembuktian bahwa identitas bangsa adalah bahan bakar paling ampuh untuk memenangkan persaingan di era global.(Sumber berita dan foto dari ekraf.go.id)

Loading

Artikel sebelumyaMenenun Masa Depan Vokasi: Di Balik Konsolidasi Emas Poltekpar Menuju 2030
Artikel berikutnyaDi Luar Ekpektasi: Mahasiswa Mengaku Kagum Saat Bertemu Realita IKN