Beranda Nusantara Raya Kekuatan “Bermasyarakat” di Era Gawai

Kekuatan “Bermasyarakat” di Era Gawai

14
0
Mendikdasmen ketika membuka kegiatan Boothcamp Anak Indonesia Hebat dan Semiloka Pengasuhan Anak Sejak Usia Dini.

vivaborneo.id/, Jakarta – Kebiasaan membangun pertemanan yang baik dan lingkungan sosial yang positif, yang didefinisikan sebagai nilai keenam dari Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), menjadi sorotan utama dalam agenda Kemendikdasmen.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mendorong para peserta didik untuk menguasai nilai ‘Bermasyarakat’ ini, menekankan bahwa membangun jaringan sosial dan interaksi tatap muka adalah kunci untuk menggantikan dominasi gawai, sekaligus menumbuhkan rasa aman, percaya diri, dan karakter yang kuat.

Saat membuka kegiatan Boothcamp Anak Indonesia Hebat dan Semiloka Pengasuhan Anak Sejak Usia Dini di Jakarta, Senin (15/12), Menteri Mu’ti menjelaskan bahwa generasi hebat lahir dari penanaman kebiasaan baik.

“Memiliki banyak teman sangat membantu murid dalam memberikan rasa aman, percaya diri, serta berkembang di lingkungan sosial,” ujar Mu’ti. Ia menambahkan bahwa komunikasi dan peranan teman sebaya dapat secara efektif menggantikan peran gawai yang kini sangat dominan.

Esensi ‘Bermasyarakat’ ini terilustrasi secara nyata melalui interaksi yang terjadi di sela-sela sambutan Menteri. Keseruan dimulai ketika Menteri Mu’ti berinteraksi dengan tiga siswa dari jenjang berbeda: Radit (SD), Denas (SD), dan Waldan (SMA).

Setelah Radit dengan lugas berbagi cita-cita kuliah di Jurusan Informatika UNAIR, Denas dengan percaya diri maju ke mimbar untuk membacakan pantun bertema buah-buahan. Namun, Denas sempat terdiam di tengah panggung, kesulitan melanjutkan pantun yang melibatkan nama temannya, Radit.

Melihat kesulitan itu, alih-alih membiarkan Denas sendirian, Menteri Mu’ti segera memicu kolaborasi. “Siapa temannya Denas yang bisa bantu? Kita bikin pantun kolaborasi!” serunya.

Tiba-tiba, Waldan, seorang siswa SMA, maju ke depan. Dengan tenang dan cerdas, ia melengkapi pantun Denas dengan rima yang jenaka dan memotivasi: “Beli Buah ke Pasar, jangan lupa bertemu Radit. Rajinlah kita belajar, kalau besar dapat duit.”

Pantun kolaborasi spontan antara siswa SD dan SMA ini berhasil memecahkan suasana, mengubah ketegangan menjadi gelak tawa, dan merangkum esensi pendidikan: keberanian, kreativitas, dan kolaborasi lintas jenjang. Terinspirasi oleh kecerdasan spontan ketiganya, Mendikdasmen pun memberikan apresiasi langsung, menjadikannya simbol penghargaan atas semangat ‘Bermasyarakat’ yang sederhana namun konkret.(tr)

Loading

Artikel sebelumyaBandara Sepinggan Kuasai 75% Penumpang Domestik Kaltim
Artikel berikutnyaKemendikdasmen Dorong Sekolah Jadi Pusat Inovasi Ekologis