Beranda Sekolah-Kampus Administrasi Keluarga Jadi Tantangan Sekolah Rakyat

Administrasi Keluarga Jadi Tantangan Sekolah Rakyat

15
0
Rabiatul Adawiah, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, saat wawancara eksklusif yang diunggah pada akun Instagram dinsos.balikpapan.

vivaborneo.id/ – Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 di Samarinda menghadapi tantangan unik dalam menjaring siswa yang berhak, terutama dari keluarga dengan ekonomi sulit. Rabiatul Adawiah, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, mengungkapkan bahwa hambatan utama bukan hanya keraguan keluarga untuk berpisah dengan anak, tetapi juga masalah administrasi kependudukan.

“Keluarga dengan keadaan ekonomi seperti ini, mereka banyak yang tidak memperdulikan dengan administrasi keluarga seperti tidak punya kartu keluarga, tidak punya KTP apalagi akta kelahiran. Sehingga, ketika ada kesempatan emas ini, banyak yang tidak bisa (mendaftar),” jelas Rabiatul seperti dikutip dari akun Instagram dinsos.balikpapan, Rabu (1/10).

Sekolah Rakyat ini memberikan fasilitas terbaik, guru terbaik, dan kurikulum terbaik untuk anak-anak yang secara ekonomi kurang beruntung. Rabiatul menyoroti bahwa seringkali anak-anak ini mematikan mimpi-mimpi besarnya karena kondisi ekonomi, dan merasa cukup hanya bisa sekolah di SD atau sekadar bisa membaca dan menulis.

Untuk mengatasi perbedaan kemampuan siswa yang datang, Sekolah Rakyat menggunakan kurikulum merdeka ditambah dengan kurikulum unik bernama MEME (Multi Enter-Multi Exit).

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Rabiatul Adawiah saat menerima secara langsung 6 calon siswa dari Balikpapan.

“MEME itu multi enter-multi exit di mana siswa yang datang ini bisa jadi dalam satu kelas itu kemampuannya beda-beda. Tetapi dengan adanya DNA talent, kita akan mengakses siswa ini kemampuannya ada di mana, talenta mereka ada di mana,” terangnya, menegaskan fokus sekolah untuk menggali potensi terpendam.

Sekolah Rakyat Terintegrasi ini terdiri dari jenjang SD dan SMA. Saat ini, jenjang SMA sudah full, namun jenjang SD masih membutuhkan banyak siswa.

Dukungan untuk menjembatani anak-anak dari keluarga kurang mampu datang dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Sugeng Widodo, pendamping PKH Kecamatan Balikpapan Barat, melaporkan bahwa Balikpapan berhasil mengirimkan enam siswa di angkatan pertama, terdiri dari tingkat SD dan SMA.

“Kami sebagai pendamping PKH bisa membantu menjembatani dan memotivasi baik para KPM PKH, KPM sembako atau yang lainnya yang memang memenuhi syarat anak-anaknya untuk dimasukkan dalam sekolah rakyat,” ujar Sugeng.

Ia berharap, peran pendamping ini dapat memastikan generasi penerus menjadi generasi yang baik dan sukses di masa depan.(*/)

Sumber berita dan foto: Ig dinsos.balikpapan

Loading

Artikel sebelumyaMayang Clara, Sosok Influencer dan Konten Kreator Incaran Brand Ternama
Artikel berikutnyaTahukah Kamu: 6 Tantangan Penguatan Karakter Generasi Digital Indonesia